Kepala

 

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana

Kabupaten Semarang

Dra. ROMLAH

Pembina Utama Muda

NIP. 19650424 198903 2 009

 

 

Link

Laporan Online

Pendataan Keluarga

 Produk Hukum

Pemda Kab. Semarang

 

 

Permenkes tentang Sunat Perempuan Dicabut

 



Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No 1636/2010 tentang Sunat Perempuan dicabut pada 6 Februari 2014, melalui Permenkes No 6/2014. Salah satu pertimbangannya adalah bahwa sunat perempuan lebih didasari oleh pertimbangan adat dan agama, bukan merupakan tindakan medis, sehingga tidak perlu diatur.



Sebelumnya, Kementerian Kesehatan pernah melarang sunat perempuan melalui Surat Edaran No HK.00.07.1.3.1047a tahun 2006. Larangan tersebut melunak dalam Permenkes No 1636/2010 karena sunat perempuan di Indonesia dinilai tidak sama dengan FGM dan hanya bersifat simbolis.

Permenkes tentang Surat Perempuan banyak menerima kritik terutama dari kalangan aktivitas perempuan. Permenkes tersebut dinilai rentan melanggar hak-hak perempuan. "Kalau dasarnya agama kan biar peraturan agama yang mengatur," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, dr Supriyantoro, Sp.P, MARS, di Jakarta, Senin (24/2).

Kalau itu tradisi, kata Supriyantoro, sejauh tidak mengganggu kesehatan maka tidak bisa dilarang. Yang harus dipertimbangkan bagi yang melakukan (sunat perempuan), adalah masalah higienis. Tempat melakukannya harus bersih, pakai sarung tangan, dan lain-lain. Jangan sampai karena budaya lalu merusak organ kelamin wanita.

Jika sunat perempuan mengacu pada female genital mutilation (FGM), maka Majelis Umum PBB telah melarang praktik ini.  Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut sunat perempuan bersifat makrumah (ibadah yang dianjurkan). Tata cara pelaksanaan khitan perempuan menurut ajaran Islam adalah cukup dengan menghilangkan selaput yang menutupi klitoris.

"Digores sedikit saja. Tidak boleh berlebihan apalagi sampai dipotong. Dalam ajaran agama juga tidak boleh melakukan yang berlebihan," papar Wakil Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin. Jika digores tentunya akan meninggalkan bekas luka. Bukankah hal itu nantinya akan menyebabkan sakit pada anak? Adakah bahaya yang dirasakan ketika perempuan sudah dewasa?

Menanggapi hal ini, Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), Prof. Dr. dr. Ali Baziad, SpOG(K) mengatakan bahwa tidak ada masalah. "Kalau hanya digores sedikit sekadar syarat tidak akan ada permasalahan," ungkapnya.

Ia menuturkan selama 20 tahun lebih menjadi dokter kandungan, tidak pernah ada pasien yang datang dan mengatakan ada keluhan karena sunat perempuan, baik dari ibu atau anaknya. Namun ia juga mengakui bahwa dirinya belum pernah melakukan apa yang disebut orang sebagai sunat perempuan tersebut. Dikatakannya bahwa kebanyakan pasien melakukan hal tersebut ketika sudah pulang ke rumah.

Sementara itu DR dr Nur Rasyid, SpU(K), Ketua Departemen Urologi RSCM, mengatakan selama ini praktik sunat perempuan yang dikenalnya adalah penyayatan penutup klitoris semata. Jangan dibayangkan penyayatan ini akan membuat organ genital anak perempuan jadi berdarah-darah. Sebab hanya dengan menggunakan jarum saja, lapisan penutup klitoris sudah bisa dirobek.

"Itu merupakan puncak atas dari vagina, jadi kulitnya disayat supaya klitorisnya semakin terekspos jadi justru wanita bisa menikmati rangsangan lebih baik. Tidak ada yang dibuang dari sunat wanita itu," terang dr Nur Rasyid. (kkb2/sumber: detik.com)